Selamat Ulang Tahun Sayang ...
Hanya sebait doa, seuntai harapan yang bisa ku beri untuk mengantarkan mu Di hari bahagia mu, bersama malaikat surga yang selalu mengitari hari-hari mu. Kebahagiaan mu ada surga ku, ku ingin hari ini adalah awal yang lebih baik untuk mu menapaki hari yang akan segera datang. Segera berlalu dan kembali akan datang, menyapa mu ...
Sabtu, 21 Februari 2009
Ultah Mu ...
Diposting oleh
Pancaran Jiwa
di
23.25
0
komentar
Selasa, 13 Januari 2009
Menguak Tanda-Tanda Pria Selingkuh
SETELAH mengetahui ciri-ciri wanita selingkuh, kini giliran kaum hawa yang juga harus mengenali tanda-tanda pria selingkuh.Tak hanya John Edwards saja, satu-satunya pria yang selingkuh saat ada seorang wanita menakjubkan di sisinya. Setiap pria berpotensi selingkuh lantaran biasanya mereka lebih mudah tergoda dengan penampilan fisik dan rayuan maut wanita.
Nah, agar Anda dapat jeli membaca tanda-tanda pria berselingkuh, Cosmopolitan memaparkannya.
1. Tak membiarkan Anda mengutak-atik barang eletroniknya
"Saat seorang pria takut terbongkar kebohongannya, dia akan lebih melindungi barang-barang elektroniknya, seperti telepon genggam atau komputer. Langkah tersebut dilakukan lantaran dia tidak ingin pasangannya menemukan email, IM chats, SMS, atau panggilan terakhir di telepon selulernya," ucap Belisa Vranich, PsyD, psikolog di New York City.
Jadi jika seorang pria tengah selingkuh, dia akan menjaga barang-barang eletroniknya atau takkan membiarkan Anda mengutak-atik telepon genggam maupun komputernya. Bahkan dia telah mengganti passwords komputer yang pernah diberikan pada Anda, dan dia akan mengelaknya.
2. Si dia lebih mengurus diri
"Ciri ini sungguh nyata dan merupakan tanda yang semua wanita mengetahuinya. Jika pasangan Anda mulai mengurus diri tanpa diminta oleh Anda, itu dapat menjadi indikasi bahwa dirinya lebih banyak
menghabiskan waktu untuk telanjang," ungkap Vranich.
Tak hanya rajin mengurus penampilan diri baik dengan pergi ke salon atau spa, petunjuk lain yang dapat dijadikan petunjuk adalah si dia juga lebih senang menghabiskan waktunya di pusat kebugaran.
3. Si dia memakai aroma parfum yang berbeda
"Saat pasangan Anda pulang ke rumah, jika aroma tubuhnya tidak sama seperti saat pagi hari. Dan wanginya tidak sama saat dia memakai sabun di pusat kebugaran atau di rumah Anda, itu dapat ditarik kesimpulan bahwa dia mandi di tempat selingkuhannya," papar Vranich.
Jadi Anda harus lebih perhatian, karena dalam kasus perselingkuhan, sebuah istilah mengungkapkan "hidung lebih tajam" dapat benar adanya.
4. Si dia tidak ingin diganggu oleh Anda
"Tingkah lakunya membuat Anda merasa ada yang tidak beres. Saat stres tengah melandanya, seks dan perhatian biasanya dapat membuat dia lebih santai. Tapi saat tengah berselingkuh, dia tak ingin diganggu oleh Anda," kata Vranich.
Ditambahkan oleh Mira Kirshenbaum, penulis When Good People Have Affairs: Inside the Hearts and Minds of People in Two Relationships, "Jika pasangan Anda tiba-tiba selalu merasa bahagia, maka Anda harus mencari tahu penyebabnya."
5. Dia jadi lebih curiga dengan Anda
"Jika biasanya dia lembut, setiap saat dia akan mencurigai Anda dengan selalu ingin tahu kemana Anda pergi, menanyakan kondisi Anda sepanjang waktu, dan bersama siapa," jelas Vranich.
"Kondisi tersebut dilakukannya lantaran dia sadar telah selingkuh dari Anda, dan di pikirannya Anda pun dapat melakukan hal yang sama," tambahnya.
Satu lagi yang harus diketahui ialah meskipun kehidupan seks Anda yang baik-baik saja, Anda tetap tak boleh lengah. Sebab dapat dipastikan bahwa pria selingkuh bukan berarti kehidupan seksnya berbeda.
"Ini merupakan kesalahan serius untuk berpikir sebuah perselingkuhan selalu berkaitan dengan kegiatan seksual. Dia hanya sedang tidak bahagia dengan hubungan Anda berdua. Bahkan, hubungan dalam kondisi mendung gelap justru semakin membuatnya bergairah dengan Anda," tandas Kirshenbaum.(*)
Diposting oleh
Pancaran Jiwa
di
08.00
0
komentar
Selasa, 06 Januari 2009
Perjalanan Panjang
Ternyata dia terluka. Dia menanggung sakit, perih dari luka yang tergores di dadanya. Luka yang menyayat hatinya. Tapi semua ini pilihannya.
Aku tidak punya daya. Aku tidak punya kekuatan untuk menyelamatkannya. Aku pikir dia kuat. Sekuat keputusn itu dia ambil. Sekuat pondasi rumah tangga yang dia bangun.
Ternyata tidak. Dia lemah, dia luka, dia sakit. Jalan ini kembali berliku. Lama sudah aku tidak melewatinya. Aku tidka lagi mengingat dengan jelas jalan-jalan yang pernah ku lalui. Perjalanan panjang yang aku lakukan menemukan ku dengan berbagai bentuk rintangan.
Tidak semua jalan itu lurus. Terkadang berliku, terkadang lurus. Berliku lagi dan lurus lagi. Bahkan sepanjang jalan itu berliku sepanjang itu pula jalan lurus yang ku lalui. Sekarang aku mengerti, perjalanan ini tidak selamanya indah...
Aku pun terluka. Aku pun menanggung sakit, perih dengan goresan yang ada di dada mu. Aku pun sakit dengan goresan yang ada pada diriku sendiri.
Diposting oleh
Pancaran Jiwa
di
07.28
0
komentar
Sabtu, 03 Januari 2009
Aku dan Dunia ku

Aku ibarat debu di atas batu. Sedikit saja angin berhembus kearah aku, aku akan terbang. beterbangan entah kemana. Tidak ada pijakan dan tidak ada kekuatan bagi aku untuk menyelamatkan diri sendiri.
Terkadang aku pilu, melihat aku yang sekarang. hati aku rasa teriris ketika aku mendapatkan kenyataan hidup yang pahit. Kehidupan yang telah merubah nasib aku.
Ah, terkadang aku berfikir hidup ini begitu membosankan.
Semuanya penuh tanda tanya. Siapapun tidak mempunyai kekuatan untuk menjawabnya. Kefanaan dunia membuatnya senantiasa lupa, dia dari mana dan akan kemana. Begitu juga dengan aku, aku adalah debu yang gampang diterbangkan. Aku adalah sahan yang mudah dipatahkan.
Aku ...
Aku ada di dunia yang telah menenggelamku. Hari ini, esok dan esoknya lagi tetap akan seperti ini. Kecuali jika ada mukjizat yang memberiku bahagia, mukjizat yang memberiku kehidupan yang lebih baik.
Apakah mungkin, wanita seperti aku akan mendapatkan mukjizat dariNya yang maha tinggi. dariNya yang maha besar. aku hanyalah seonggok debu yang berterbangan. Sampah yang seharusnya terbuang bersama sampah-sampah lain.
Namun diriku yang tidak berarti hanya habis sampai sapu dan penyodok sampah itu mampu mengangkatnya. Dia pun tak mau mengangkatku karena aku kecil dan seolah tak nampak. Aku tak berguna.
Keberadaan ku seolah memberikan kotoran dan menerabarkan kotoran yang mengaharuskan perempuan tua itu menyekaku membersihkan ku. Menghilangkannku dari permukaan yang halus itu. Permukaan lemari hias yang tertata rapi oleh berbagai perlengkapan.
Aku tidak ingin terus ada. Aku ingin pergi bersama dunia ku. Pergi jauh bersama dengan dunia ku.(*)
Diposting oleh
Pancaran Jiwa
di
07.44
0
komentar
Senin, 29 Desember 2008
Antara Ada dan Tiada

Ada luka yang tak bisa sembuh
ada duka yang tak bisa dihapus
ada bahagia yang takkan pernah hilang
ada waktu yang takkan pernah terulang.
Diposting oleh
Pancaran Jiwa
di
07.55
0
komentar
Minggu, 28 Desember 2008
Dia Akan Pergi

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, tak terasa perjalanannya sangatlah cepat, kehidupan memberikan ketuaan pada diri kita. Tapi kita tidak pernah sadar, apa yang telah kita perbuat selama pertukaran hari, pertukaran bulan hingga pertukaran tahun. Rasanya semua sama tak ada yang berubah, hanya usia yang sudah semakin larut. Hari yang sudah semakin senja dan bulan yang sudah semakin redup.
Tahun pun sudah semakin tua seiring dengan perjalanannya. Kita tidak pernah tahu, apa yang harus kita jawab ketika apa yang ada dalam tubuh ini bertanya. Sejauh mana kita memperlakukannya dengan baik, dan sejauh mana kita membawanya dalam kehidupan ini. Hidup yang memberikan banyak jalan, hidup yang memberikan banyak tantangan dan hidup yang,-
Ah kita semakin tersudut ketika semua mulai bicara. Terkekang dengan waktu yang semakin singkat. Akan kita bisa kembali? Akankah kita bisa melewatinya? Meskipun hanya tersisa secuil. Ibarat debu, kita ada di atas batu yang setiap saat akan berhamburan tertipu hembusan angin lalu. Kita ibarat air, tidak bisa diam jika bertemu dengan dataran rendah.
Satu tahun kita bersama, satu tahun kita melewati kehidupan yang penuh dengan cobaan, rintangan dan kebahagiaan. Susah senang, sedih bahagia, semua menyatu. Bahkan pada tahun ini pula kita bertemu dan berpisah, kita berteman dan kita bermusuhan. Kita saling berbagi cinta dan kita pun pernah saling berbagi benci. Tapi tidak ada yang mengeluh dan tidak ada yang mampu menulis, apa yang telah terjadi di tahun ini.
Ke depan kita akan dihadapkan dengan tahun yang baru, seperti apa kehidupan kita di sana? Seperti apa kita dan seperti apa cinta kita, seperti apa kebencian kita dan seperti apa kebahagiaan kita. Tidak aku dan tidak pula kamu, tidak mereka dan tidak siapa-siapa. Mereka hanya akan berserah mengikuti perjalanannya.
Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, kembali pada tatanannya. Semua tidak akan pernah merasakan dan tidak akan perah bisa merasakan. Hanya waktu, perjalanannya diatur oleh sang waktu, sosok yang sempurna dalam mengatur tatanan kehidupan ini, kehidupan aku, kamu. Di atas singgasana kebahagiaan, kesedihan, kedukaan, kekecewaan, tak seorang pun akan tahu..
Selamat Tahun Baru, semoga kita memperoleh hikmahnya.
Diposting oleh
Pancaran Jiwa
di
07.37
0
komentar
Jumat, 19 Desember 2008
Happy Birthday
Ini lho kru-nya Radar Bute,
semuanya pada usil dan suka iseng...
Heboh, semuanya pada ribut...
Potong kue pertama terkesan sakral, abis tu...
ya ampun ribut bgt..,
Selamat ulang tahun syg...
Hari ini aku berulang tahun. Kata mereka di hari ulang tahun itu kita mesti selalu ceria dan bahagia. Sebenarnya apa yang mereka katakan itu, ada benarnya juga. Kenapa tidak, dihari itu kita diberi kepercayaan untuk terus menjalankan kehidupan. Di hari itu pula kita diberi kesempatan untuk terus menjalankannya. Padahal banyak hal yang harus diresapi di hari kelahiran kita itu. Tapi ada satu hal yang hilang dan juga terkadang membuat aku takut. Dan sebenarnya hal itu pula yang membuat aku tidak begitu bersemangat dihari jadi aku. Di hari itu, aku kehilangan satu kesempatan untuk bisa hidup lebih lama. Aku kehilangan satu tahun yang berharga dalam hidup aku. Semoga panjang umur....
Diposting oleh
Pancaran Jiwa
di
07.56
0
komentar